Peningkatan Peringkat Ekonomi Syariah Global Masih Jauh dari Harapan
ekonomi

Peningkatan Peringkat Ekonomi Syariah Global Masih Jauh dari Harapan

CNN Indonesia4 Juni 2026👁 1 views🤖 AI Rewritten

Indonesia saat ini menempati posisi keempat Global Islamic Economy Indicator (GIEI) dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026. Peringkat ini turun dari sebelumnya di bawah Malaysia, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Sebelumnya Indonesia berada di peringkat ketiga dalam tiga tahun terakhir.

Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat mengatakan sebagian kalangan menilai perubahan peringkat ini menimbulkan kekhawatiran. Namun, bagi yang terlibat dalam pengembangan ekonomi dan keuangan Syariah nasional, hasil tersebut harus dimaknai secara lebih substantif.

"Peringkat memang penting sebagai indikator daya saing global, tetapi yang jauh lebih penting adalah memahami apa yang sedang berubah dalam lanskap ekonomi Syariah dunia dan bagaimana Indonesia merespons perubahan tersebut," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6). Dia mengatakan perlu dipahami bahwa SGIE bukan sekadar mengukur besarnya populasi Muslim atau besarnya konsumsi produk halal suatu negara. Indikator ini menurutnya menilai kekuatan ekosistem secara menyeluruh, mencakup kebijakan, inovasi, investasi, perdagangan, hingga kemampuan membangun rantai nilai halal yang terintegrasi.

"Negara-negara yang berhasil meningkatkan peringkatnya adalah mereka yang mampu mengorkestrasi seluruh elemen tersebut secara simultan dan berkelanjutan," katanya. Sutan juga menambahkan bahwa fondasi ekonomi syariah Indonesia masih sangat kuat. Indonesia tetap menjadi pemimpin dunia pada sektor modest fashion serta menunjukkan kinerja unggul pada sektor halal food yang meningkat dari peringkat keempat tahun lalu menjadi peringkat ketiga tahun ini.

Sementara media and recreation yang tahun lalu belum masuk lima besar menjadi peringkat ketiga pada tahun ini. Fakta ini menunjukkan bahwa tantangan Indonesia bukanlah kekurangan potensi ataupun kehilangan daya saing, melainkan bagaimana mengonversi berbagai keunggulan tersebut menjadi kepemimpinan yang lebih kuat dalam rantai nilai ekonomi Syariah global.

"Karena itu, yang perlu menjadi perhatian bukanlah semata-mata posisi peringkat, melainkan mengapa negara lain mampu bergerak lebih cepat. Dalam konteks ini, terdapat setidaknya tiga agenda besar yang perlu mendapatkan akselerasi," katanya. Pertama menurutnya adalah memperkuat transformasi Indonesia dari pasar halal menjadi produsen halal dunia. Sutan berharap hilirisasi industri halal harus menjadi prioritas bersama. Selain itu produk halal Indonesia harus semakin mampu menembus pasar internasional dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Dengan demikian, perubahan peringkat ini dapat dijadikan sebagai kesempatan bagi Indonesia untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja ekonomi syariahnya.