Mengapa Kehilangan Jabatan Terasa Menyakitkan? Ini 5 Alasan yang Membelakanginya
Banyak orang mengalami post-power syndrome setelah kehilangan jabatan, yaitu kondisi kejiwaan yang umum dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan. Kondisi ini diikuti dengan menurunnya harga diri dan gejala-gejala fisik, emosional, dan perilaku.
Dalam beberapa waktu terakhir, banyak pejabat yang terpaksa turun dari jabatan karena terjerat kasus hukum. Mungkin ada yang bertanya-tanya, bagaimana rasanya kehilangan jabatan secara mendadak dan mengapa rasanya sangat menyakitkan. Ini tak lepas dari kondisi yang disebut sebagai post-power syndrome.
Post-power syndrome merupakan kondisi kejiwaan yang umum dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan. Biasanya, kondisi ini diikuti dengan menurunnya harga diri. Setidaknya ada tiga kategori gejala post power syndrome, yaitu gejala fisik, emosional, dan perilaku.
Dari segi fisik, penampilan seseorang akan tampak kurang segar, kurang ceria, dan mudah sakit. Adapun gejala emosional meliputi mudah tersinggung, suka menyendiri, dan pemurung. Gejala lainnya, antara lain bingung, sedih, kesepian, hingga ada perasaan hampa.
Siapa pun bisa mengalami post-power syndrome, apalagi yang baru kehilangan pekerjaan. Kehilangan jabatan atau karier bisa memicu respons kesedihan setara duka cita kehilangan orang terkasih. Otak mengaktifkan pola emosional dan kognitif yang sama.
Hal ini karena otak tidak menyimpan pikiran tentang pekerjaan dan kehidupan pribadi dalam folder yang terpisah. Lalu apa saja alasan di balik rasa sakit akibat kehilangan jabatan atau pekerjaan yang juga bisa Anda alami?
Salah satu alasan adalah karena kehilangan identitas. Menurut laman tertentu, dari sisi psikologis, nama jabatan bukan sekadar deskripsi pekerjaan, tetapi menjadi bagian dari identitas diri. Kehilangan jabatan berarti kehilangan bagian yang membuat Anda merasa berguna dan memiliki tujuan.
Selain itu, kehilangan interaksi juga bisa menyebabkan rasa sakit karena otak tidak lagi mendapat stimulasi dari interaksi dengan rekan kerja dan atasan. Tak ada lagi struktur kegiatan harian yang membuat Anda merasa memiliki tujuan dan arah hidup.
Sistem limbik tubuh juga tidak bisa membedakan kehilangan jabatan dengan kehilangan pribadi. Hal ini berarti bahwa otak Anda masih menganggap kehilangan jabatan sebagai kehilangan bagian dari diri sendiri, sehingga menyebabkan rasa sakit dan depresi.
Pekerjaan juga meningkatkan dopamin, yaitu hormon yang membuat Anda merasa bahagia dan memiliki motivasi. Kehilangan pekerjaan berarti kehilangan sumber dari dopamin tersebut, sehingga menyebabkan rasa tidak bahagia dan kurang motivasi.
Dengan memahami alasan-alasan di atas, Anda bisa mengatasi kesedihan dan rasa sakit akibat kehilangan jabatan atau pekerjaan.