Hasto Ungkap Filosofi Lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme"
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengungkap filosofi di balik lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" yang kerap diputar dalam berbagai agenda internal partai. Menurutnya, lagu tersebut menjadi bagian dari upaya pelurusan sejarah sekaligus penguatan ideologi partai.
Hasto menjelaskan bahwa lagu itu kembali diperkenalkan kepada kader PDIP untuk membangkitkan pemahaman mengenai konsep Marhaenisme yang selama ini kerap disalahartikan. Ia juga menyebutkan bahwa Muhammad Prananda Prabowo berperan dalam menghadirkan kembali lagu tersebut dengan aransemen baru.
"Karena itu lagu Mars Bung Karno Bapak Marhaenisme itu sangat penting dan diperkenalkan kembali oleh Mas Prananda Prabowo dengan aransemen yang baru," ujar Hasto usai mempimpin upacara Hari Lahir Pancasila di Halaman Masjid At-Taufiq, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (1/6).
Menurut Hasto, konsep Marhaenisme yang diwariskan Presiden pertama RI Soekarno berbeda dengan stigma yang selama ini dilekatkan oleh sebagian pihak. Menurutnya, Marhaenisme lahir dari realitas sosial rakyat kecil yang hidup mandiri namun kerap terpinggirkan dari proses pembangunan.
Karena itu, kata dia, Marhaenisme menempatkan rakyat kecil sebagai subjek utama perjuangan politik dan ekonomi bangsa. "Tentang pentingnya lagu Mars Bung Karno Bapak Marhaenisme, karena selama ini kita berbicara Marhaen itu kemudian dicap komunis dan sebagainya, padahal itu adalah suatu realitas sosial yang terjadi sebagai setting historis bagi Bung Karno untuk memerdekakan rakyat Indonesia yang terpinggirkan," tegasnya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan lagu tersebut diputar dalam acara kenegaraan, Hasto menilai yang lebih penting bukanlah pemutaran lagunya, melainkan penerapan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kebijakan negara. "Bagi PDI Perjuangan lagu mars Bung Karno itu sangat penting karena membangkitkan kesadaran kita tentang watak sejati Pancasila untuk merubah struktur yang menindas berdasarkan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kebangsaan dan kerakyatan itu sendiri," jelasnya.