IHSG-Rupiah Ambruk, Alarm Krisis Kepercayaan Investor Menyala?
ekonomi

IHSG-Rupiah Ambruk, Alarm Krisis Kepercayaan Investor Menyala?

CNN Indonesia1 jam lalu👁 2 views🤖 AI Rewritten

Pada perdagangan Rabu (3/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kompak ambruk. IHSG kembali menyentuh level 5.900-an, sedangkan rupiah resmi jebol ke level Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6) pagi.

Mengutip RTI Infokom, IHSG melemah 254,36 poin atau minus 4,11 persen ke level 5.941 pada penutupan Rabu (3/6) sore. Bahkan, IHSG sempat anjlok hampir 5 persen, tepatnya 4,94 persen atau 305,9 poin ke level 5.889 pada penutupan sesi I.

Pada penutupan, investor melakukan transaksi sebesar Rp25,21 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 40,06 miliar saham. Sebanyak 692 saham terkoreksi, 69 menguat, dan 54 stagnan. Sementara itu, nilai tukar rupiah pagi ini resmi tembus level Rp18.000 per dolar AS, usai Rabu (3/6) sore bertengger di level Rp17.966 per dolar AS.

Mata uang Garuda pagi hari melemah 76 poin atau 0,43 persen dibandingkan level sebelumnya. Pelemahan IHSG berbarengan dengan rupiah terhadap dolar AS disinyalir adanya pengaruh faktor eksternal, yakni meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai ekonomi Indonesia belum kehilangan seluruh daya tarik di mata investor, tetapi pasar sedang meminta kompensasi risiko yang jauh lebih besar. Menurut Syafruddin, investor masih melihat Indonesia sebagai pasar besar dengan konsumsi domestik kuat, kelas menengah potensial, dan peluang investasi jangka panjang.

Namun, ia mengungkapkan masalahnya, yakni daya tarik investor cenderung melemah ketika rupiah terus tertekan, IHSG terkoreksi tajam, dan indeks kepercayaan pasar Indonesia berada pada level rendah. "Pelemahan ini tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal. Yield US Treasury yang masih tinggi, ketidakpastian arah suku bunga The Fed, harga energi, dan ketegangan geopolitik memang menekan aset negara berkembang," ujar Syafruddin.

Syafruddin menjelaskan tekanan Indonesia terlihat lebih dalam karena pelaku pasar juga membaca risiko domestik, yakni stabilitas rupiah rapuh, premi risiko tinggi, sektor keuangan yang lemah. Ia menyarankan bahwa pemerintah perlu melakukan langkah-langkah untuk meningkatkan keyakinan investor dan stabilisasi ekonomi.