Tim UGM Deteksi Retakan Diduga Jalur Gas Pemicu Api Rumah Fia Sleman
teknologi

Tim UGM Deteksi Retakan Diduga Jalur Gas Pemicu Api Rumah Fia Sleman

CNN Indonesia2 jam lalu👁 3 views🤖 AI Rewritten

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan retakan di bawah permukaan tanah di rumah Mutfiana alias Fia di Sleman, DIY. Retakan ini diduga jadi jalur bagi senyawa yang dugaannya berkaitan dengan pemicu fenomena api dan kebakaran berulang. Tim menggunakan perangkat georadar untuk mendeteksi retakan.

Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan sejumlah retakan di bawah permukaan tanah di rumah Mutfiana alias Fia di Seyegan, Sleman, DIY. Retakan ini diduga jadi jalur bagi senyawa yang dugaannya berkaitan dengan pemicu fenomena api dan kebakaran berulang.

Retakan-retakan ini ditemukan melalui proses deteksi menggunakan perangkat georadar yang dibawa oleh tim dari Lab Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM. Saptono Budi Samodra, peneliti dari tim tersebut menuturkan bahwa pihaknya telah mencoba mendeteksi titik-titik yang sebelumnya dilaporkan jadi lokasi kemunculan api di rumah Fia.

"Jadi yang kalau di atas ini urugan itu terlihat tadi di alat, kemudian di bawah itu masih ada tanah aslinya kan. Tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan ada pola atau struktur retakan di beberapa tempat," kata Saptono ditemui di rumah Fia, Senin (8/6).

Georadar, atau geoscaner ini sendiri bekerja menggunakan pulsa gelombang elektromagnetik 60 MHz untuk memetakan struktur di bawah permukaan tanah. Gelombang dipancarkan ke dalam tanah, lalu dipantulkan kembali ke permukaan saat menabrak material berbeda kepadatan untuk dianalisis.

Adapun retakan terbaca di layar perangkat berupa garis rambut atau dengan dimensi lebih besar yang memutus beberapa lapisan tanah. Beberapa tegak lurus dan sebagian lagi nampak miring, namun kemungkinan tetap sinkron dengan titik kemunculan api.

Saptono bilang, kedalaman retakan ini bervariasi. Akan tetapi, ia juga menggarisbawahi bahwa gelombang elegtromagnetik yang dihasilkan georadar ini juga terbatas maksimal 20 meter di bawah permukaan tanah saja.

"Mungkin di bawah masih masih berlanjut, cuma keterbatasan kemampuan alat yang tidak bisa mendeteksi sampai lebih dalam," terangnya.

Tim sejauh ini hanya memaparkan pembacaan sementara dari georadar. Hasil pendeteksian masih perlu melalui tahap olah data untuk memastikan keterkaitan adanya retakan dengan senyawa pemicu api. Ditambah nantinya penggunanaan geolistrik untuk pengukuran ke lapisan yang lebih dalam.

Tim juga berencana melakukan pengeboran tangan demi melihat jenis lapisan tanah yang ada di bawah rumah Fia.

"Kalau georadar lebih detail (daripada hasil pembacaan geolistrik), cuma dia memang keterbatasannya enggak bisa dalam," ungkapnya.

Saptono turut menekankan bahwa penelitian yang ia dan tim lakukan dari aspek geologi. Pihaknya mencari kemungkinan lain dari kesimpulan sementara Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Universitas Gadjah Mada yang mengatakan bahwa kebakaran berulang di rumah Fia disebabkan oleh gas yang berasal dari tanah.