Kisah Pengais Rezeki Sunardi dan Yohana di Blok M
Sunardi dan Yohana adalah dua pengais rezeki yang menggantungkan harapan di Blok M. Mereka menempuh perjalanan jauh dan berjualan hingga malam demi menyambung hidup.
Blok M di Jakarta Selatan menjadi saksi perjuangan dua pengais rezeki pada Jumat 22 Mei 2026 malam. Sunardi dan Yohana mencari nafkah di kawasan yang ramai pengunjung setiap malam Sabtu itu. Mereka berjualan di tengah keramaian orang yang sedang berkumpul dan berjalan-jalan. Tujuannya adalah mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sunardi berangkat dari Cengkareng setiap hari dengan membawa pikulan bambu sederhana. Ia menjual semprong dan kerupuk bawang yang ditumpuk di kaleng bekas. Ia biasanya tiba di Blok M sekitar pukul 12 siang dan bertahan hingga pukul 9 malam. Setelah itu ia berjalan kaki ke Terminal Blok M untuk naik bus pulang. Hari itu ia baru berhasil menjual lima bungkus dagangan dengan penghasilan yang tidak menentu.
Beberapa meter dari Sunardi, Yohana menjajakan minuman botol kemasan dan seduhan kopi di perempatan belakang Blok M Square. Ia mulai rutinitas ini sejak pandemi Covid-19 berakhir dan melayani pembeli dengan sigap. Pada akhir pekan ia juga menjual bunga seharga Rp50 ribu per buket yang disimpan dalam ember berisi air. Bunga-bunga itu kadang dihiasi tulisan Prancis bertuliskan 'C'est la Vie'.
Blok M memang dikenal sebagai pusat skena anak muda Jakarta, tetapi bagi Sunardi dan Yohana tempat itu adalah sumber pengharapan. Mereka tetap duduk di depan dagangan meski orang-orang terus berlalu lalang. Harapan mereka sederhana yaitu dagangan laku dan bisa pulang dengan uang yang cukup.