Sejarah Blok M: Dirancang Belanda, Mati Suri, Kini Bangkit Lagi
Blok M mengalami pasang surut popularitas sejak dirancang era kolonial Belanda hingga kini bangkit kembali. Revitalisasi melalui MRT dan ruang publik membuat kawasan ini kembali ramai dikunjungi generasi muda.
Kawasan Blok M di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mengalami siklus pasang surut sebagai pusat perbelanjaan dan interaksi sosial sejak era 1940-an. Pemerintah kolonial Hindia Belanda merancang kawasan ini karena pusat pemerintahan di Gambir sudah terlalu padat, sehingga membangun kota satelit baru di Kebayoran dengan konsep taman kota seperti Menteng. Blok M ditetapkan sebagai pusat kota dari pembagian blok A hingga S, dan kini kembali ramai berkat beroperasinya MRT serta hadirnya Taman Literasi Martha Christina Tiahahu dan M Bloc Space.
Sejarah pembangunan Blok M dimulai pada masa pemerintahan Hindia Belanda tahun 1940-an. Setelah pengakuan kedaulatan tahun 1949, pemerintah Indonesia melanjutkan rencana membangun kota satelit Kebayoran secara terintegrasi di bawah eksekusi arsitek Mohammad Soesilo dengan konsep modern. Sejarawan Andi Achdian menjelaskan bahwa arsitek yang ditunjuk saat itu adalah orang Belanda, sementara pelaksananya adalah orang Indonesia.
Blok M sempat menjadi primadona bagi anak muda Jakarta pada rentang 1980-an hingga awal 2000-an sebagai pusat belanja dan kuliner. Namun kawasan ini pernah mengalami masa sunyi ketika pusat perbelanjaan dan terminal bawah tanahnya kehilangan pamor hingga seolah mati suri. Mobilitas pengunjung kini meningkat lagi berkat integrasi transportasi dan ruang publik baru yang menjadikan Blok M titik kumpul generasi muda.
Gagasan tata ruang Blok M terus berlanjut pasca kemerdekaan dengan rancangan yang lebih modern. Andi Achdian menyatakan bahwa rencana besar itu bertujuan menjadikan Jakarta sebagai ibu kota dengan membangun kota satelit baru di wilayah Kebayoran. Hingga kini, sejarah panjang tersebut masih terlihat dalam fungsi Blok M sebagai pusat mobilitas warga Jakarta Selatan.