Remaja dengan Sindrom Tourette Diusir Pesawat karena Berteriak "Bom"
Sindrom Tourette adalah kondisi neurologis (saraf) yang menyebabkan penderitanya mengeluarkan suara atau gerakan mendadak secara berulang dan tidak disengaja, yang dikenal sebagai 'tik' (tics). Kondisi ini umumnya dipicu oleh luapan emosi seperti stres berat, rasa cemas, kelelahan, atau kegembiraan. Mason Entwistle adalah salah satu penderita Sindrom Tourette yang mengalami gejala tersebut.
Pada hari keberangkatan, keluarga Entwistle yang membawa rombongan 10 orang hendak terbang menuju Alicante, Spanyol, untuk berlibur. Sang ayah, Martyn Entwistle (39), menegaskan bahwa pihaknya telah melaporkan kondisi disabilitas putranya kepada pihak British Airways jauh-jauh hari sebelum jadwal keberangkatan karena menyadari sang anak sangat cemas menghadapi penerbangan. Namun, saat mengantre di gerbang keberangkatan, rasa cemas Mason memuncak dan dia secara tidak sengaja meneriakkan kata "bom" beberapa kali secara histeris.
Saat keluarga mencoba masuk ke garbarata, seorang manajer BA langsung menghadang dan menolak masuk seluruh keluarga. Dalam rekaman video konfrontasi di lapangan, petugas maskapai menyatakan bahwa mereka tidak menolak karena dia memiliki disabilitas, tetapi karena ada ancaman yang dilontarkan bahwa dia membawa bom di tasnya. Keputusan kaku maskapai tersebut seketika meruntuhkan mental sang remaja. Mason dilaporkan langsung terduduk di lantai bandara sambil menangis histeris dan berulang kali meminta maaf kepada semua orang di sekitarnya karena merasa bersalah atas kondisi medisnya.
Situasi kian mencekam ketika aparat kepolisian bersenjata lengkap datang ke lokasi untuk mengawal Mason, ayah, ibu (Gemma, 36), serta adiknya yang masih berusia satu tahun keluar dari terminal bandara. Insiden ini memicu protes keras dari pihak keluarga yang menuduh maskapai penerbangan nasional Inggris tersebut telah melakukan tindakan diskriminasi nyata terhadap penyandang disabilitas.