Nanik Buka Peluang Dapur MBG Pakai Hibah Luar Negeri dan CSR BUMN
Menteri Kesehatan Prabowo Subianto melantik Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto).
Jakarta, CNN Indonesia - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang membuka peluang pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menggunakan sumber pendanaan di luar APBN. Menurutnya, pendanaan tersebut dapat berasal dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BUMN, hibah luar negeri, hingga dukungan perusahaan swasta yang beroperasi di daerah setempat.
"Untuk wilayah-wilayah yang belum digarap oleh investor kami akan coba kerjasamakan atau kita bisa dibiayai dengan CSR-nya BUMN atau mungkin ada hibah dari luar negeri," ujar Nanik usai pelantikannya di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (8/6).
Menurut Nanik, skema tersebut menjadi salah satu opsi yang tengah disiapkan BGN untuk memperluas layanan MBG di daerah 3T tanpa menambah beban anggaran negara secara signifikan. Langkah itu juga sejalan dengan upaya efisiensi yang sedang dilakukan BGN, yaitu penataan ulang pelaksanaan program agar penggunaan anggaran lebih efektif tanpa mengurangi target pemenuhan gizi masyarakat.
"Langkah kami adalah pertama-tama seperti yang beberapa waktu lalu saya sampaikan, kami konsen pada efisiensi anggaran agar bisa tidak membebani anggaran negara pada saat ini, tetapi dengan tidak mengubah target dari yang kita berikan gizi," ujarnya.
Sebagai bagian dari penataan tersebut, BGN menghentikan sementara pembukaan titik dapur baru maupun pendaftaran baru untuk melakukan evaluasi kebutuhan di setiap daerah. Menurut Nanik, saat ini terdapat 27.877 titik dapur MBG yang telah beroperasi berdasarkan virtual account (VA). Persebaran dapur masih terkonsentrasi di Pulau Jawa sehingga perlu dilakukan pemetaan ulang kebutuhan layanan di masing-masing provinsi.
"Kita hentikan dulu ke situ, kita akan tata. Kita tata apakah dapur ini melayani ini sudah bisa melayani sebetulnya dengan penerima manfaat yang ada atau sebetulnya malah kelebihan," ujarnya.
Selain menata persebaran dapur, BGN juga melakukan refocusing pada penerima manfaat agar program lebih tepat sasaran kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi. "Kita lebih arahkan nanti benar-benar pada anak-anak atau penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi," ujar Nanik.
Kemudian, BGN juga akan meningkatkan pengawasan kualitas layanan SPPG.