Israel Lanjut Operasi Militer di Lebanon Meski Setuju Gencatan Senjata
Pemerintah Israel mengeklaim bahwa mereka telah sepakat gencatan senjata dengan Lebanon pada hari Selasa lalu. Namun, Menteri Pertahanan Israel, Katz, menyebutkan bahwa pihak militer akan tetap berada di zona keamanan mereka di Lebanon selatan. Termasuk daerah Kastil Beaufort, sebuah benteng yang sudah berusia 900 tahun dan telah direbut oleh Israel.
Menurut pernyataan Katz, selama ada pasukan Israel di wilayah itu, warga Lebanon yang terpaksa meninggalkan rumah mereka tidak akan dapat kembali. Dia juga menyebut bahwa Israel akan terus "membongkar infrastruktur teroris di daerah tersebut". Menteri Pertahanan Katz juga mengatakan bahwa Israel memiliki kebebasan untuk menyerang Beirut sebagai tanggapan atas serangan ke komunitas dan wilayah Israel, yang didukung oleh Amerika Serikat.
Keesokan harinya setelah kesepakatan gencatan senjata dicapai, pemerintah Israel memberikan pernyataan bahwa mereka akan terus melanjutkan operasi militer di Lebanon. Ini berarti bahwa gencatan senjata yang telah disepakati antara kedua negara tidak efektif dalam menghentikan serangan dan balasan serangan.
Pihak militer Israel juga menyebutkan bahwa mereka memiliki kebebasan untuk melanjutkan operasi militer di Lebanon, dengan alasan "membongkar infrastruktur teroris" di daerah tersebut. Ini berarti bahwa pemerintah Israel tidak akan menghentikan serangan kepada kelompok Hizbullah, yang telah menyebabkan konflik antara kedua negara.
Kesepakatan gencatan senjata sebelumnya telah tercapai setelah pemerintah Israel bersumpah untuk meningkatkan tindakan di Lebanon. Namun, rencana ini juga mengancam perundingan AS-Iran yang sedang berlangsung. Sehari kemarin, pembicaraan antara kedua negara terjadi selama sembilan jam dan berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Dalam pernyataan bersama, Israel dan Lebanon menyebutkan bahwa mereka telah sepakat untuk melanjutkan jalur politik dan keamanan pada 22 Juni. Tujuan dari kesepakatan ini adalah untuk mencapai kesepakatan komprehensif. Pernyataan bersama tersebut juga mengatakan bahwa kedua negara akan segera memajukan pembentukan 'pilot zone' di mana Angkatan Bersenjata Lebanon akan mengambil kendali eksklusif atas wilayah tersebut, dengan mengesampingkan semua aktor non-negara. Namun, tidak ada jangka waktu yang ditetapkan untuk zona kontrol ini.
Dalam pernyataan bersama itu, Israel dan Lebanon juga menyebutkan bahwa keamanan dan penghormatan terhadap integritas wilayahnya hanya dapat dicapai melalui pelucutan senjata Hizbullah dan pembongkaran infrastruktur teroris di seluruh Lebanon.