Xi Jinping Perluas Pembersihan dalam Tubuh Militer China
politik

Xi Jinping Perluas Pembersihan dalam Tubuh Militer China

CNN Indonesia7 jam lalu👁 2 views🤖 AI Rewritten

Pembersihan besar-besaran yang dilakukan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam tubuh Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) telah memasuki fase baru yang lebih serius. Situasi ini dinilai mengguncang struktur militer China dan menimbulkan atmosfer ketakutan di kalangan perwira PLA.

Hukuman mati yang ditangguhkan terhadap dua mantan menteri pertahanan China, Li Shangfu dan Wei Fenghe, menjadi titik balik penting dalam sejarah Partai Komunis Tiongkok (PKC). Keduanya dinyatakan bersalah atas kasus suap dan korupsi. Dengan jatuhnya dua tokoh ini, menunjukkan bahwa Xi Jinping bersedia menyingkirkan bahkan orang-orang terdekatnya demi memperkuat kontrol politik.

Pembersihan yang dipimpin oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping telah melibatkan banyak perwira PLA. Hukuman berat terhadap dua mantan pejabat tinggi ini mengejutkan banyak perwira PLA, karena selama beberapa dekade jenderal dengan posisi setinggi itu jarang menerima hukuman ekstrem.

Kondisi ini telah memicu paranoia di kalangan perwira menengah dan junior. Mereka mulai khawatir dapat menjadi target berikutnya, terlepas dari loyalitas atau kinerja mereka. Para analis menilai bahwa atmosfer saling curiga mulai mengganggu kohesi internal militer China.

Prajurit disebut menjadi lebih ragu mengambil keputusan, sementara komandan enggan bertindak secara independen karena takut terkena dampak politik. Pilihan Redaksi

Dalam beberapa tahun terakhir, pembersihan yang dipimpin oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping telah semakin intensif. Selain Li Shangfu dan Wei Fenghe, dua mantan menteri pertahanan China lainnya juga telah ditangkap dalam kasus suap dan korupsi.

Pada Januari 2026, penyelidikan diumumkan terhadap Zhang Youxia, wakil ketua Komisi Militer Pusat, serta Liu Zhenli, kepala Departemen Staf Gabungan PLA. Meski keduanya masih tercatat memegang jabatan resmi, mereka dilaporkan menghilang dari ruang publik.

Hilangnya sejumlah tokoh senior telah menciptakan kekosongan kepemimpinan di saat China sedang berupaya mempercepat modernisasi militernya menuju 2027. Kondisi ini dinilai dapat menghambat kesiapan operasional PLA. Laporan juga menyoroti dampak strategis dari pembersihan tersebut.

Struktur komando militer China mulai melemah akibat pergantian pejabat dan meningkatnya ketidakstabilan di tingkat atas. Kasus Wei Fenghe, yang sebelumnya memimpin Departemen Pertahanan Nasional Tiongkok, disebut sebagai contoh bagaimana pembersihan yang dipimpin oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping dapat menimbulkan dampak strategis dalam tubuh militer.

Dengan jatuhnya mantan menteri pertahanan China ini, menunjukkan bahwa pembersihan yang dipimpin oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping tidak berhenti pada Li dan Wei. Pembersihan ini dinilai sebagai upaya menciptakan ketakutan di lingkungan militer.