Tugas Menkeu dihadapi Tekanan Fiskal Cukup Sederhana, Ujar Chatib Basri
ekonomi

Tugas Menkeu dihadapi Tekanan Fiskal Cukup Sederhana, Ujar Chatib Basri

CNN Indonesia2 jam lalu👁 3 views🤖 AI Rewritten

Tekanan fiskal yang dihadapi oleh Pemerintah saat ini semakin meningkat akibat perlambatan ekonomi global, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, dan potensi kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Namun, menurut Chatib Basri, tugas menkeu dalam menghadapi tekanan fiskal sebenarnya cukup sederhana karena hanya memiliki tiga opsi solusi.

"Tugas dari Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal, naikkan, potong, pinjam. Itu, hanya tiga itu," kata Chatib dalam Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6). Ia menjelaskan bahwa pemerintah pada dasarnya hanya bisa meningkatkan penerimaan negara, memangkas pengeluaran, atau menutup kebutuhan pembiayaan melalui utang.

Namun, Chatib menilai menaikkan pajak bukan pilihan realistis dalam kondisi ekonomi saat ini karena berpotensi semakin menekan aktivitas usaha dan daya beli masyarakat. "Masa di dalam situasi ini tax revenue, tax-nya mesti dinaikkan? Nggak mungkin juga," katanya.

Sementara itu, opsi menambah utang juga dinilai tidak ideal karena biaya pinjaman sedang mahal seiring tingginya suku bunga global. "Siapa yang mau pinjam uang sekarang, cost-nya akan jadi sangat mahal," ucapnya.

Karena itu, Chatib menilai langkah yang paling memungkinkan adalah melakukan rasionalisasi belanja negara secara selektif untuk menjaga kredibilitas fiskal. "Maka opsi yang paling mungkin itu adalah opsi tiga. Cut the spending selectively," katanya.

Chatib juga mengingatkan bahwa kekhawatiran investor saat ini lebih banyak berkaitan dengan keberlanjutan fiskal pemerintah dibandingkan fundamental ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Ia mencontohkan premi risiko Indonesia yang tercermin dalam credit default swap (CDS) sudah meningkat sejak awal tahun, bahkan sebelum konflik terbaru di Timur Tengah terjadi.

"Artinya saya bisa bilang bahwa soal kita itu adalah soal confidence risk. Jadi kalau isu ini di-address, sebetulnya ada harapan ini bisa diperbaiki," ujarnya.