Rupiah Anjlok, Pelaku Usaha Terpojok?
Pelemahan nilai tukar Rupiah masih belum mereda, seolah-olah tidak ingin mundur dari puncak kekhawatiran yang melanda dunia usaha. Pada Kamis kemarin, Kurs Dolar Amerika Serikat kian mendekati level Rp18.000 dan membuat kekhawatiran semakin meningkat. Tekanan ini dinilai berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan energi, menekan arus kas perusahaan, hingga mempengaruhi keputusan investasi dan tenaga kerja.
Lalu, seberapa besar dampaknya bagi pelaku usaha nasional? Sebenarnya sudah sangat banyak yang dirasakan. Dari biaya produksi yang semakin mahal karena impor bahan baku semakin menelan korban, hingga keputusan untuk mengurangi investasi dan tenaga kerja karena takut rugi.
Banyak yang masih berharap pemerintah dan Bank Indonesia segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Apalagi jika tidak diatasi, maka dampaknya akan semakin parah. Tekanan ini harus segera diatasi agar pelaku usaha dapat kembali memproduksi dengan biaya yang lebih terjangkau dan menekan inflasi.
Dalam acara CNN Indonesia Business, Anchor Rully Kurniawan membahas isu tersebut bersama Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo. Mereka berdua membicarakan pentingnya langkah-langkah dari pemerintah dan Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah.