Review Film Children of Heaven 2026: Adaptasi Emosional dengan Jawaban yang Ditunggu
hiburan

Review Film Children of Heaven 2026: Adaptasi Emosional dengan Jawaban yang Ditunggu

CNN Indonesia29 Mei 2026👁 5 views🤖 AI Rewritten

Hal yang paling pertama disadari dari Children of Heaven 2026 adalah film ini 'melengkapi' dari apa yang dirasa kurang dari film aslinya pada tahun 1997. Bukan berarti film Hanung Bramantyo ini mengalahkan karya Majid Majidi, tapi dua film itu seperti kembaran beda semesta. Yang jelas, penulis Oka Aurora dan Hanan Novianti paham betul apa yang dibutuhkan dan disukai oleh penonton Indonesia dalam menulis naskah Children of Heaven 2026: sentuhan drama yang lebih juicy dan naik-turun bagai roller coaster.

Hal itu sebenarnya jadi ekspektasi yang wajar mengingat Oka sukses membuat penonton emosional gegara naskah Layangan Putus (2021, 2023) dan Ipar adalah Maut (2024). Namun bedanya, kali ini naskah Oka tak terlalu seperti sinetron macam dua judul tersebut. Detail-detail dari Children of Heaven (1997) yang dirasa janggal untuk sudut pandang penonton Indonesia saat ini dimodifikasi dengan sentuhan halus untuk Children of Heaven 2026.

Beberapa di antaranya seperti alasan logis sepatu Zahra jatuh ke selokan, latar keluarga Yeni atau dalam film aslinya bernama Roya, situasi ekonomi yang dihadapi keluarga Ali dan Zahra, hingga akhir yang pantas untuk perjuangan Ali juga Zahra. Memang ada beberapa cerita yang masih mengundang pertanyaan, seperti seberapa jauh sekolah Ali dan Zahra, berapa durasi mereka bersekolah dalam sehari, serta posisi sekolah Ali dan Zahra yang berbeda karena gender padahal masih dalam organisasi penaung yang sama.

Masalah sekolah tersebut memang cukup tricky. Bila dalam film aslinya, sangat dipahami Ali dan Zahra berbeda sekolah karena Iran menggunakan prinsip syariat Islam dalam kehidupan bernegara dan sehari-hari. Sementara di Indonesia, tidak demikian. Apalagi Ali dan Zahra versi Hanung ini juga tidak bersekolah di pesantren yang lebih memungkinkan terjadinya pemisahan sekolah berbasis gender.

Meski begitu, Oka dan Hanan dengan cerdas menyisipkan selipan-selipan komedi yang dibutuhkan oleh cerita ini bila memang ingin disajikan ke penonton Indonesia. Hal itu karena bila saklek mengikuti film aslinya, sudah pasti banyak penonton yang berjuang untuk tidak terus-terusan menguap.