Negara dalam Negara, Ini Sejarah Lesotho yang 'Dikurung' Afsel
Lesotho adalah sebuah kerajaan kecil di Afrika bagian selatan yang secara geografis terkurung oleh Afrika Selatan. Negara ini sepenuhnya dikelilingi oleh Afrika Selatan, berbatasan dengan tiga provinsi Afrika Selatan: KwaZulu-Natal, Free State, dan Eastern Cape. Lesotho memiliki topografi unik dengan pegunungan tinggi yang mendominasi lanskapnya.
Sejarah Lesotho tak pernah lepas dari Raja Moshoeshoe I pada abad ke-19 atau sekitar 1820-an. Ketika itu terjadi konflik dan perang antar suku di Afrika bagian selatan yang disebut Mfecane. Moshoeshoe kemudian mengumpulkan berbagai kelompok untuk ke tempat yang lebih aman di pegunungan, lebih tepatnya di Thaba Bosiu. Mereka lalu bersatu membentuk bangsa Basotho atau orang-orang Lesotho.
Namun, pada pertengahan abad ke-19, wilayah Bosotho menghadapi ancaman dari pemukim kulit putih keturunan Belanda (Boers) yang mendirikan negara Free State di perbatasan mereka. Basotho kemudian perang dengan Boers dan kehilangan banyak lahan subur imbas konflik tersebut. Moshoeshoe lalu mengambil inisiatif dengan langkah diplomatis.
Pada 1868, dia meminta bantuan militer dan perlindungan ke Ratu Inggris Victoria. Inggris setuju dan menjadikan wilayah tersebut sebagai daerah perlindungan (protektorat) dan diberi nama Basutoland. Kemudian pada 1910, wilayah-wilayah koloni di sekitarnya bergabung membentuk Uni Afrika Selatan. Inggris sempat berencana memasukkan Basutoland ke Afrika Selatan. Namun, para pemimpin adat dan rakyat Basotho menolak keras.
Inggris tetap mengelola Basutoland sebagai koloni terpisah hingga akhirnya memberikan kemerdekaan penuh pada Oktober 1966. Setelah merdeka, nama negara diubah dari Basutoland menjadi kerajaan Lesotho.