Mendag Jawab Keluhan Pedagang Tahu dan Tempe Akibat Rupiah Lesu
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyelesaikan keluhan pedagang tahu dan tempe yang mengalami penurunan pendapatan akibat pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS. Menurutnya, pemerintah saat ini memantau kondisi pasokan kedelai impor untuk menjaga ketersediaannya agar tidak semakin besar tekanan pada harga.
Budi mengatakan bahwa pihaknya masih mencermati penyebab kenaikan harga yang terjadi di lapangan, termasuk kemungkinan dampak dari kenaikan harga bahan baku impor. "Kita terus memantau, masalahnya apakah karena harga impornya ya," kata Budi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (8/6).
Dalam menjawab keluhan pedagang tahu dan tempe, Mendag juga menekankan bahwa pemerintah telah berupaya untuk menjaga ketersediaan pasokan kedelai impor. "Kita terus menjaga pasokannya harus stabil," ujarnya.
Budi juga menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan pasokan kedelai impor tetap tersedia, karena bahan baku utama produksi tahu dan tempe masih bergantung pada impor. "Kedelai kan impor semua ya," kata Budi.
Dalam kesempatan yang sama, Mendag juga menjelaskan bahwa tahu dan tempe tidak termasuk dalam kelompok komoditas kebutuhan pokok yang dipantau secara rutin melalui mekanisme harga acuan maupun harga eceran tertinggi (HET). Meski demikian, pemerintah tetap memperhatikan perkembangan harga dan pasokan di lapangan.
Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyerap surplus telur ayam melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga harga di tingkat peternak. Langkah serupa dapat dilakukan terhadap komoditas lain apabila harga mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan.
Dalam kesimpulan, Mendag Budi Santoso menekankan bahwa pemerintah akan mempelajari lebih lanjut situasi yang terjadi di lapangan sebelum mengambil tindakan lebih lanjut. "Nanti kita lihat," kata Budi.