Letusan Gunung Tambora, Bencana Alam yang Meruntuhkan Kekaisaran Napoleon
Penelitian terbaru telah menemukan kaitan antara letusan Gunung Tambora pada tahun 1815 dan kekalahan Napoleon Bonaparte di Pertempuran Waterloo. Letusan dahsyat tersebut menyebabkan hujan lebat di seluruh Eropa, yang kemudian mengarah pada kekalahan tentara Napoleon.
Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Matthew Genge dari Imperial College London, yang menemukan bahwa abu vulkanik bermuatan listrik akibat letusan Tambora dapat melesat ke tingkat lapisan atmosfer atas. Penemuan ini kemudian dikonfirmasi dalam jurnal Geologi pada tahun 2018.
"Sebelumnya, para ahli geologi mengira kalau abu vulkanik terperangkap di lapisan langit yang lebih rendah karena semburan material vulkanik naik secara ringan dan perlahan," ujar Genge. "Namun penelitian saya menunjukkan jika abu dapat melesat ke tingkat lapisan atmosfer atas karena kuatnya daya listrik."
Selain itu, jenis awan khusus muncul lebih sering dari biasanya setelah letusan Krakatau. Awan noktilusen jarang ditemukan dan bercahaya, serta terbentuk di ionosfer. Dr. Genge berpendapat bahwa awan-awan ini memberikan bukti adanya levitasi elektrostatik abu dari letusan gunung berapi besar.
Rupanya langit Eropa yang mendung dan iklim yang berubah dalam tempo lama menyebabkan kekalahan pasukan Napoleon, yang sebelumnya sudah berperang selama 23 tahun. Sambil mengutip sastrawan Prancis Victor Hogo dalam novel Les Misérables, yang menulis tentang Pertempuran Waterloo ia mengatakan: "'langit yang berawan di luar musim sudah cukup untuk menyebabkan runtuhnya sebuah dunia.' Sekarang kita selangkah lebih dekat untuk memahami peran Tambora dalam Pertempuran tersebut dari belahan dunia yang berbeda," kata Genge.