Konser Musik Hijau Tumbuh, Mengurangi Dampak Lingkungan
Konser musik semakin berkembang menjadi lebih ramah lingkungan. Konser hijau bukanlah hanya sekadar gimik bebas plastik dan pilah sampah, melainkan juga menciptakan kesadaran akan pentingnya mengurangi dampak karbon dari industri musik. Data menunjukkan bahwa konser-konser besar telah meninggalkan jejak emisi yang signifikan.
Konser musik sejatinya bukan hanya sekadar menikmati lagu favorit, melainkan juga berkontribusi pada perubahan lingkungan dengan mengurangi dampak karbon. Konser hijau bukanlah hanya sekadar gimik bebas plastik dan pilah sampah, melainkan juga menciptakan kesadaran akan pentingnya mengurangi dampak karbon dari industri musik.
Seiring dengan perubahan lingkungan yang semakin nyata berubah dari masa ke masa, seperti pemanasan global yang terjadi, gagasan akan konser musik yang ramah lingkungan atau dikenal sebagai konser hijau juga semakin digalakkan. Konser musik dalam bentuk tur yang dilakukan oleh musisi mengunjungi satu kota ke kota lain, bahkan lintas negara dan benua, serta seberapa jauh penonton menempuh perjalanan demi sebuah konser merupakan pemicu kesadaran akan pentingnya mengurangi dampak lingkungan.
Menurut Konsultan Lingkungan dari Carbon Footprint, John Buckley, tur Sticky & Sweet World Tour dari Madonna pada 2008 yang membawa 250 orang kru ke 37 lokasi selama empat bulan telah menghabiskan energi yang setara dengan menyalakan lampu 100 watt selama 400 tahun. Konsumsi energi luar biasa ini terus bertambah pada konser-konser berikutnya, seperti pada tur U2 360° Tour dari band Irlandia, U2, pada 2009.
Data menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca di Inggris pada 2007 telah mencapai 540 ribu ton CO2e per tahun. Dari jumlah itu, 26 persen atau setara 138 ribu ton CO2e setahun berasal dari proses rekaman dan penerbitan musik, sedangkan sebanyak 74 persen atau 400 ribu ton CO2e setahun justru berasal dari aktivitas terkait dengan pertunjukan musik langsung, termasuk konser.
Sebagai perbandingan, emisi 400 ribu ton CO2e setahun dari konser musik di Inggris itu setara dengan menyetir mobil bensin sejauh 1,6 miliar kilometer yang setara dengan keliling bumi sebanyak 40 ribu kali, atau hasil dari listrik untuk 190 ribu rumah selama setahun penuh. Guerreschi juga mengutip temuan di Inggris pada 2007 yang menyebut bahwa 46 persen gas berbahaya yang dihasilkan industri musik berasal dari transportasi yang digunakan oleh penonton konser dan artisnya, serta 27 persen lainnya disebabkan oleh energi yang dikonsumsi acara musik seperti penggunaan generator bensin alias genset.