Indonesia dan Filipina Teken Barter Dagang Tekstil dan Baja
ekonomi

Indonesia dan Filipina Teken Barter Dagang Tekstil dan Baja

CNN Indonesia2 jam lalu👁 3 views🤖 AI Rewritten

Indonesia dan Filipina menandatangani nota kesepahaman (MoU) barter dagang untuk meningkatkan ekspor tekstil dan baja. Menurut Menteri Perdagangan Budi Santoso, Indonesia akan mengimpor komoditas serat abaka dari Filipina yang kemudian diolah menjadi tekstil oleh perusahaan anggota Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI).

Barang jadi berupa tekstil tersebut akan kembali diekspor ke negara tersebut. Selain serat abaka, barter dagang juga dilakukan terhadap komoditas bijih besi atau iron ore dari Filipina yang akan diolah menjadi baja oleh Krakatau Steel sebelum diekspor kembali.

Budi Santoso menjelaskan bahwa skema barter ini tidak menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat karena setiap negara mempunyai agen barter sebagai fasilitator. "Setelah diproses dari grup Krakatau Steel, kemudian bajanya kita ekspor ke Filipina," tambahnya.

Ia menegaskan bahwa skema barter dagang ini menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan upaya ekspor di tengah nilai tukar rupiah yang terus melemah. "Ini salah satu solusi sebenarnya ya bagaimana pertama kita meningkatkan ekspor kita dan bagaimana kita dengan barter ini kan tidak tergantung mata uang asing," sebut Budi Santoso.

Kesepakatan tersebut berpotensi menghasilkan transaksi mencapai US$350 juta atau setara Rp6,34 triliun melalui dua MoU imbal dagang tripartit atau melibatkan tiga pihak. Pertama, MoU antara Asian Pyrochem Technologies dari Filipina bersama PT Trade Barter Indonesia dan Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia yang menyepakati pertukaran serat abaka mentah dengan produk tekstil jadi senilai US$50 juta atau setara Rp909,2 miliar per tahun.

Kedua, MoU antara Asian Pyrochem Technologies bersama PT Trade Barter Indonesia dan PT Krakatau Global Trading yang menyepakati pertukaran produk baja dengan bijih besi asal Filipina senilai US$300 juta atau setara Rp5,45 miliar per tahun.