GoPro Di Ambang Kebangkrutan, Penjualan dan Biaya Produksi Melonjak
Raksasa action cam GoPro sebenarnya sudah lama menghadapi kesulitan keuangan. Penjualan perusahaan telah terus merosot dalam beberapa tahun terakhir. Dokumen terbaru yang diserahkan GoPro kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak yakin bisa mempertahankan operasi dalam 12 bulan ke depan tanpa suntikan dana baru atau transaksi strategis.
Berdasarkan dokumen SEC, dana tunai dan setara kas GoPro kini hanya sekitar US$50 juta atau setara Rp897 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan tersebut sangat terbatas kemampuan keuangan. "Tanpa memperoleh sumber pendanaan tambahan atau menyelesaikan transaksi strategis, kemampuan perusahaan untuk melanjutkan kelangsungan usahanya akan terdampak secara material dan merugikan," tulis GoPro dalam dokumen SEC tersebut.
Manajemen GoPro juga menyatakan bahwa perusahaan kemungkinan terpaksa melakukan pengurangan operasional secara signifikan, restrukturisasi, penghentian operasi, hingga mencari perlindungan hukum di bawah undang-undang kepailitan federal. Meskipun begitu, GoPro menegaskan belum ada rencana spesifik yang diinisiasi untuk mengajukan kebangkrutan.
Krisis finansial GoPro diperparah oleh situasi industri teknologi global. Produsen kamera aksi ini harus menghadapi lonjakan biaya perangkat keras memori yang meroket antara 80 persen hingga 110 persen. Kenaikan harga yang drastis ini dibarengi dengan penurunan pasokan komponen dari para supplier akibat imbas dari krisis data AI, ketika kapasitas produksi chip global dialihkan secara masif untuk memenuhi kebutuhan pusat data kecerdasan buatan.
Dengan harga jual kamera aksi yang berada di kisaran US$300 hingga US$500, GoPro kesulitan membebankan kenaikan biaya produksi tersebut kepada konsumen. Masalah ini dipertegas oleh laporan internal perusahaan yang mengindikasikan adanya pelemahan penjualan yang berkepanjangan sepanjang bulan April dan Mei 2026.
Sebelum dokumen keuangan ini diterbitkan, GoPro sebenarnya telah melakukan sejumlah langkah efisiensi, termasuk memotong hampir seperempat dari total stafnya sejak April kemarin serta menjual beberapa aset perusahaan. Pendiri GoPro juga menyatakan dukungannya jika perusahaan harus menempuh opsi penjualan atau merger ke pihak lain demi menyelamatkan bisnis.