Blok M Bangkit Jadi Magnet Gen Z Lewat Revitalisasi Transportasi
Blok M yang sempat sepi kini kembali ramai berkat revitalisasi dan integrasi transportasi massal. Pengamat kota Yayat Supriatna menyebut Blok M sebagai brand masa lalu yang bersinar lagi.
Kawasan Blok M di Jakarta kini kembali dipadati pengunjung terutama saat akhir pekan setelah beberapa tahun nyaris tenggelam. Revitalisasi sejumlah titik termasuk Taman Literasi Martha Christina Tiahahu menjadi pemicu kebangkitan tersebut sehingga lorong-lorong pusat belanja yang dulu lengang kini dipenuhi antrean kuliner dan kafe anak muda. Fenomena ini terjadi karena Blok M masih menyimpan memori kuat sebagai simpul transportasi dan pusat perdagangan sejak puluhan tahun lalu sehingga ingatan masyarakat tidak pernah hilang meski popularitasnya sempat menurun.
Pengamat tata kota Yayat Supriatna menilai Blok M merupakan brand masa lalu yang bersinar kembali menjadi brand masa kini. Menurutnya sejak dulu Blok M memang dirancang sebagai titik temu mobilitas warga sekaligus pusat aktivitas ekonomi. Masa redup Blok M terasa ketika layanan bus konvensional seperti Metro Mini, Kopaja, Mayasari Bakti, dan PPD perlahan tergantikan sehingga Terminal Blok M tak lagi menjadi pusat utama aktivitas warga.
Kondisi tersebut semakin parah saat pandemi Covid-19 datang karena aktivitas perdagangan turun drastis dan tren belanja daring berkembang pesat. Yayat menyatakan Blok M tambah cepat mati ketika Covid datang sebab tidak ada perdagangan dan daya beli masyarakat berubah. Peran Blok M sebagai pusat keramaian pun semakin tergerus akibat perubahan tersebut.
Salah satu pemicu kebangkitan adalah menguatnya fungsi Blok M sebagai simpul transportasi massal. Integrasi layanan TransJakarta dan pengembangan TransJabodetabek membuat Blok M kembali strategis sebagai titik pertemuan mobilitas dari berbagai wilayah penyangga Jakarta. Yayat menegaskan Blok M menjadi hidup kembali ketika simpul layanan transportasi tersebut beroperasi optimal.