Biaya Operasional Mal Membengkak Imbas Pelemahan Rupiah
Biaya operasional mal membengkak imbas pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, ungkap Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI). Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja menyampaikan bahwa efek gejolak global, termasuk pelemahan rupiah, semakin terasa di pusat perbelanjaan. Ia menilai biaya operasional seperti logistik dan gas terus meningkat setiap bulannya.
"Terutama dari sisi biaya logistik, kemudian harga gas, karena CNG itu ada unsur nilai USD-nya, dolar AS-nya, sehingga kami mengalami biaya gas naik setiap bulan," ujar Alphonzus dalam acara Peluncuran Program BINA Holiday & Back to School di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Senin (8/6).
Selain itu, sambung Alphonzus, biaya operasional juga naik karena kenaikan pajak di sejumlah pemerintah daerah. Hal ini dampak dari alokasi dana pemerintah daerah tersebut dikurangi.
Banyak masyarakat yang tetap mengunjungi pusat perbelanjaan, namun terdapat perubahan tren dalam berbelanja. Mereka cenderung membeli produk dengan harga satuan yang lebih murah. "Yang terjadi itu adalah tren belanjanya yang berubah. Begitu kan sudah ada satu dua tahun terakhir ini kan tren belanjanya berubah begitu, karena mereka cenderung membeli barang-barang produk yang harga satuannya unit price-nya itu kan murah, kecil begitu," ujar Alphonzus.
Dalam upaya menghadapi situasi tersebut, pusat perbelanjaan tidak bisa menaikkan biaya sewa kepada penyewa karena saat ini aktivitas belanja sedang rendah (low season). Menurut Alphonzus, menaikkan harga sewa adalah langkah terakhir di tengah situasi daya beli masyarakat yang tertekan. "Jadi opsinya apa? Opsinya adalah meningkatkan penjualan, itulah yang dilakukan, kenapa kita menyelenggarakan banyak program-program termasuk Bina Holiday ini," ungkapnya.
Dengan demikian, APPBI berupaya meningkatkan penjualan dan menghadapi perubahan tren dalam berbelanja masyarakat.