Beras Dorong Inflasi, Harga Naik di Penggilingan dan Eceran
Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat bahwa beras menjadi salah satu penyumbang inflasi pada Mei 2026. Menurut data yang dirilis BPS, makanan pokok ini memberikan andil sebesar 0,02 persen pada kelompok makanan, minuman dan tembakau.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini mengatakan bahwa harga beras memang naik di semua tingkat, baik di penggilingan, grosir maupun eceran. Misalnya, di penggilingan, harga beras tercatat Rp13.765 per kg, naik dari bulan sebelumnya sebesar Rp13.685 per kg.
"Harga rata-rata beras di penggilingan pada Mei 2026 ini secara total naik 0,58 persen secara bulanan (mtm) dan naik sebesar 8,10 persen secara tahunan," ujar Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6).
Selain itu, bila melihat dari kualitas beras di penggilingan, maka beras premium naik 0,56 persen (mtm) dan 12,81 persen (yoy). Sementara, untuk beras medium naik 0,79 persen (mtm) secara atau naik 6,57 persen (yoy).
Pudji juga mengatakan bahwa harga beras di tingkat grosir maupun eceran yang tercatat masing-masing senilai Rp14.574 dan Rp15.358 per kilogram.
"Di tingkat grosir terjadi inflasi sebesar 0,68 persen (mtm) dan terjadi inflasi sebesar 6,11 persen (yoy). Sementara di tingkat eceran terjadi inflasi sebesar 0,38 persen (mtm) dan terjadi inflasi sebesar 4,55 persen (yoy)," ujarnya.
Harga beras yang dirilis BPS adalah rata-rata harga beras yang mencakup semua jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia pada periode Mei 2026. Secara umum, inflasi sepanjang Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan.